Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Wednesday, September 21, 2011

Rise of the Planet of the Apes (Rupert Wyatt, 2011)


Chimp-antasticalifragilisticexpialidocious
Walaupun gak setenar franchise lain semacam Harry Potter dan  Batman, namun Planet of the Apes sempat nelurin 4 sekuel dan 1 remake yang cukup berhasil, meski dari segi kualitas hanya film pertamanya dan Escape From the Planet of the Apes yang mendapat sambutan hangat. Ngeliat reputasi para sekuelnya yang ancur-ancuran, maka gak salah kalo banyak orang yang duluan skeptis sama versi reboot-nya ini. Apa lagi, ngeliat castnya, satu-satunya bintang besar yang familiar di kalangan penonton awam cuma James Franco aja. Selain itu,  konsep ceritanya sendiri  yang agak cheesy emang cocok buat ngebikin ilfil para film snobsduluan. Alhasil, cuma sedikit orang yang percaya kalo film ini bisa berhasil. EIts, tapi apakah lo termasuk salah satu dari mereka itu? Gue sih enggak hihihi.

Rise of the Planet of the Apes (RotPotA) mencoba untuk membuat suatu legacy baru dengan menjadikan film pertamanya ini sebagai intro dari serial yang hendak dibangunnya. Jika Planet of the Apes, bercerita tentang derajat kera dan manusia yang berubah 180 derajat. Maka, RotPotA mencoba untuk  menceritakan awal mula invasi kera tersebut. Seperti standardnya film-film Hollywood, maka segala sesuatu yang aneh dan gak biasa, pasti bisa langsung disimpulin dengan adanya cairan ajaib hasil penemuan laboratorium bertahun-tahun. Klise banget yah?
Alkisah Will Rodman (James Franco) adalah seorang ilmuwan yang menjadi bintang di perusahaan tempatnya bekerja, Gen-Sys. Karena reputasinya itu, ia kemudian dipercaya untuk menangani suatu penelitian tentang obat Alzheimer yang diberi kode ALZ-112. Obat tersebut kemudian dites kepada beberapa simpanse percobaan. Karena suatu tragedi yang menimpanya, doi terpaksa harus merawat seekor simpanse percobaan jantan dari labnya. Walaupun baru berumur 1 hari, tapi simpanse yang bernama Caesar (Andy Serkis) ini menunjukkan progress intelegensi yang luar biasa hebat.Will gak bakal menyangka, kalo simpanse adopsinya itu akan jadi awal dari sesuatu yang besar…
  
Well, statement Rupert Wyatt, sang sutradara yang bilang kalo RotPotA bakalan di-reboot­ layaknya Batman Begins emang terbukti gak cuma omdo. Dengan berbagai sekuelnya yang lebih mengarah ke genre sci-fi action murni. RotPotA mencoba untuk mengemas cerita ini menjadi lebih berkelas dan dramatis. Buat lo yang berharap kalo film ini bakalan full action dan penuh dengan ledakan, wah lo salah tempat bro, mending nonton Transformers aja. Di film ini, Wyatt memilih untuk membangun ketegangan dengan alur yang agak lambat. Bahkan, bisa dibilang sebagian dari film ini malah difokuskan pada hubungan Caesar dan Rodman. Ini sebenernya merupakan suatu keputusan yang cukup berani, mengingat Planet of the Apes bukanlah franchise yang terkenal dari segi dramanya. Alur yang lambat bukan berarti bertele-tele loh. RotPotA memanfaatkan durasinya tersebut untuk membangun karakter setiap tokoh-tokohnya dan membuat para penonton menjadi merasa dekat dengan karakternya, sebelum nantinya adrenalin penonton dipompa lewat klimaks ceritanya yang dashyat.
Penokohan yang ciamik juga menjadi salah satu kekuatan dari film ini. Konsep memanusiakan kera yang diwakilkan dalam tokoh Caesar, dibuat serealistis mungkin. Dari awal, kita pelan-pelan diajak untuk mengenal Caesar dalam mengalami masa-masa pertumbuhan dan masa-masa pemberontakannya. Karena karakternya yang dirajut secara detail, Caesar yang sebenernya punya tampilan biasa aja, jadi keliatan istimewa karena ada ‘sesuatu’ di dalam karakternya. Walaupun cuma berbalut rambut dan kulit saja, keperkasaan Caesar sudah berhasil bikin kami semua teriak “HEELLL YEEAAHHH!” di salah satu adegan klimaksnya. Pengen kaya gitu juga ? Nonton dulu aja di bioskop!
karena keperkasaan Caesar dan filmnya yang bikin gue jadi pencinta binatang,  film ini kami beri rating 4 Simpanse Melet!

Tulisan ini juga dimuat di provoke-online.com

Wednesday, March 23, 2011

The Life and Death of a Porno Gang (Mladen Djordjevic, 2009)

Ada apa dengan Serbia ? Setelah tahun lalu saya dikejutkan dengan sebuah karya visual yang brutal dan memilukan berjudul A Serbian Film, tahun ini saya mendapatkan kembali sebuah film serupa yang memiliki karakteristik yang sama, The Life and Death of a Porno Gang. Porno Gang sebenarnya sudah dirilis terlebih dahulu pada tahun 2009, namun dikarenakan konten ceritanya yang terlalu eksplisit, maka film ini tidak dirilis diluar Serbia, dan baru dapat dinikmati di awal tahun ini, itupun lewat akses dunia maya saja. Secara garis besar, Porno Gang bisa disebutkan sebagai kakak dari Serbian Movie, keduanya mengusung tema yang sama, tentang seorang pria gagal yang dihadapkan pada tawaran menggiurkan untuk membuat sebuah film snuff. 

Porno Gang sendiri merupakan sekumpulan anak muda yang berkeliling Serbia untuk mementaskan sebuah aksi teatrikal yang mencampurkan pornografi dan isu - isu sosial di dalamnya. Ide ini dicetuskan oleh Marko (Mihajlo Jovanovic), seorang lulusan fakultas perfilman yang dihadapkan pada kenyataan bahwa mimpinya menjadi sutradara besar terancam gagal karena tidak ada produser yang mau membiayai filmnya. Pertemuannya dengan Cane (Spencer Gray) menjadi pintu masuk baginya ke dalam industri film porno di Belgrade. Tak puas hanya menjadi kameramen untuk film - film porno picisan, ia pun menggagas ide untuk membuat suatu pentas teater porno pertama di dunia.

Dari situlah Porno Gang pertama kali terbentuk, dengan Marko sebagai pemimpin, dan beberapa teman serta aktor - aktor porno sebagai anggotanya. Pertunjukan teater porno ini tidak berlangsung lama. Cane yang marah karena aktornya dicuri oleh Marko, memanfaatkan adiknya yang juga seorang polisi, untuk membubarkan pertunjukannya, Marko dan anggota Porno Gang yang lain kemudian memutuskan kabur dari Belgrade, dan berkeliling Serbia, mengadakan pentas di desa - desa kecil disana, dengan harapan dapat meraih sukses dari situ. Seperti yang sudah diduga, para penduduk bereaksi sangatlah negatif. Ketika kehidupan mereka mulai menjadi semakin berantakan, seorang produser film snuff dari Jerman datang ke pemukiman mereka, dan menawarkan suatu proyek menggiurkan yang akan mengubah kehidupan mereka...

Saya pertama kali mendengar film in ketika A Serbian Film sedang gencar - gencarnya dibahas dalam berbagai media. Kesamaaan ide cerita dan plot membuat saya kemudian tertarik untuk menonton film ini. Kedua film ini sama - sama menjual eksploitasi dan kekerasan, namun berbeda dengan A Serbian Film yang cenderung lebih serius, Porno Gang memiliki atmosfer cerita yang cenderung lebih ringan dan cerita yang lebih variatif ketimbang saudara mudanya itu. Mladen Djordjevic menceritakan Porno Gang lewat gaya visual ala dokumenter dengan Marko sebagai sosok utama, pada awalnya. Lewat pembukanya, Marko memaparkan ide untuk mendokumentasikan hidupnya di depan kamera, tanpa tahu kemana arah hidupnya nanti. Gaya visual seperti ini sendiri sebenarnya tidak terlalu saya sukai, terutama karena mengingatkan saya pada film - film horror serta eksploitasi amatir yang membosankan. Tapi di film ini, keputusan Djordjevic termasuk tepat. lewat gaya seperti ini, saya seakan - akan terbawa masuk ke dalam kehidupan para Porno Gang sendiri, sehingga ikut bersimpati dengan kondisi mereka.  Pada adegan yang brutal dan eksplisit, bagian yang "dijual" oleh Porno Gang untuk menarik perhatian para pencinta film, Djordjevic, diluar dugaan saya, mengolah semua adegan tersebut dengan lebih "sopan", walaupun nuansa eksploitasinya sendiri tetap kental. Hal ini yang membuat saya justru merasa kasihan dan miris ketimbang jijik ketika melihat adegan - adegan tersebut.

Porno Gang mengangkat (atau lebih tepatnya, menjatuhkan) emosi penontonnya secara perlahan - lahan. Dibuka dengan nuansa yang cenderung ringan dan menghibur, Djordjevic mengisi adegan - adegan pada bagian tersebut dengan sisipan adegan konyol yang menarik, dalam satu adegan, Marko bahkan bercita- cita ingin membuat sebuah film artsy tentang pemuda yang bersetubuh dengan bumi, menghasilkan "anak" sebatang tanaman berbentuk aneh, yang ketika dikonsumsi dapat mengubah manusia menjadi zombie berliurkan sperma. Satu hal yang menarik adalah Djordjevic memberikan setiap warna yang berbeda  - beda pada anggota Porno Gang, dan memberikan ruang bagi mereka yang berkembang. Hal ini yang membuat saya merasa dekat dan bersimpati dengan kejadian yang menimpa mereka. Kedekatan emosional juga yang membuat film ini menjadi terasa begitu depresif ketika mencapai bagian akhirnya.

Porno Gang dapat dilihat sebagai suatu kisah pergolakan antara idealisme dan uang. Marko, yang pada awalnya begitu bersemangat untuk membuat suatu terobosan, melahirkan sebuah konsep seni baru yang lahir dari hasrat dan kecintaannya akan dunia seni tersebut. Namun, ketika masalah mulai datang menerpa, ia pun memutuskan untuk mengambil sampingan, membuat film snuff, menjual kematian kepada kliennya, dengan bayaran yang jauh lebih besar. Apa yang mulanya hanya sekedar sampingan, justru menjadi lebih dari sekedar itu. The Life and Death of Porno Gang mungkin dipasarkan sebagai sebuah film eksploitasi, namun bagi mereka yang mengharapkan akan mendapat "hiburan" yang sama dengan A Serbian Film, mungkin akan kecewa, karena Porno Gang terasa lebih sopan dan halus. namun jika mau dibandingkan, bagi saya, The Life and Death of Porno Gang jauh lebih komplit dan menyayat ketimbang adiknya tersebut.





Monday, March 7, 2011

Late Bloomer (Go Shibata, 2004)

Late Bloomer adalah film indie karya sutradara muda Jepang, Go Shibata. Film ini merupakan karya keduanya setelah NN-891102 di tahun 1999. Walaupun dirilis pada tahun 2004 dan sudah ditayangkan di beberapa festival film di dunia, film ini baru menarik perhatian banyak orang setelah Roger Ebert menulis resensi film ini pada situsnya, dan memberikan 3 bintang, sebuah rating yang cukup baik mengingat ia dikenal tidak terlalu tertarik dengan film indie semacam ini. Pada Akhir Maret 2009 kemarin, film ini resmi dirilis dalam bentuk dvd untuk region 1 oleh perusahaan Bone House Asia. Hal ini juga yang membuat nama Late Bloomer baru terdengar pada tahun ini.

Late Bloomer merupakan sebuah film yang mengupas sisi emosional seorang penyandang cacat dari sudut pandang yang tidak biasa. Film ini menceritakan tentang Sumida (Masakiyo Sumida) seorang penyandang cacat total yang selalu bepergian menggunakan kursi roda elektrik, dan harus menggunakan mesin untuk berkomunikasi dengan orang lain. Namun, berbeda dengan penggambaran tokoh cacat pada umumnya, Sumida tidak dikucilkan dan rendah diri. Ia berteman dekat dengan seorang vokalis band underground, Take (Naozo Hotta), yang selalu mengajaknya minum bir bersama dan berpesta bersama teman – teman mereka yang lain. Selain itu, Sumida juga gemar menonton film porno layaknya pria normal biasa. Semuanya tampak baik – baik saja dalam kehidupan Sumida sampai muncul seorang mahasiswi bernama Nobuko (Mari Torii) yang ikut membantu merawat Sumida di rumahnya. Ia jatuh cinta dengan Nobuko, namun Nobuko terlihat lebih tertarik dengan Take. Rasa cemburu yang begitu dalam menyebabkan Sumida memberontak dan menjadi pribadi yang lebih kelam. Dari situlah semuanya mulai berubah...

Banyak yang membanding – bandingkan film ini dengan film Tetsuo karya Shinya Tsukamoto. Memang, keduanya memiliki kemiripan, mereka dikemas dalam bentuk visual hitam dan putih, dan menggunakan musik techno sebagai latarnya. Namun, berbeda dengan Tetsuo yang lebih bersifat absurd dan eksperimental. Late Bloomer lebih merupakan sebuah studi karakter tentang sisi emosional seorang penyandang cacat. Go Shibata seperti ingin kembali membentuk persepsi masyarakat yang sudah diracuni dengan berbagai macam film komersil, yang biasanya menaruh tokoh penyandang cacat sebagai tokoh yang perlu dikasihani dan diperlakukan istimewa. Dalam film ini, Sumida digambarkan sama dengan manusia normal biasa, ia punya ‘kebutuhan’ dan bisa bersenang – senang, dan pada akhirnya ia juga sama berbahayanya seperti manusia lainnya.

Salah satu keunikan dan daya tarik dari film ini adalah penggunaan aktor penyandang cacat, Masakiyo Sumida untuk tokoh utamanya. Kehadiran Sumida sebagai karakter utama membuat Late Bloomer menjadi terasa lebih nyata dan mencekam. Selain itu, keputusan ini dirasa sangatlah tepat mengingat jika film ini memakai aktor lain sebagai Sumida, belum tentu efek kejut dan daya tarik akan sehebat ini.

Berangkat dari semangat untuk mendobrak persepsi yang ada, Late Bloomer tampil sebagai film horor/ thriller yang unik dan menarik. Dengan teknik visual dan musik latar yang agak ‘nyeleneh’, film ini tentu saja dapat menjadi alternatif lain bagi mereka yang sudah bosan dengan film – film mainstream yang temanya semakin lama semakin membosankan.


Thursday, March 3, 2011

The House of the Devil (Ti West, 2009)

Thanks to Mr. Tarantino & Mr. Rodriguez, film horror bergaya grindhouse beberapa tahun belakangan ini mulai kembali digemari oleh para penggemar film di seluruh dunia. Entah terinspirasi atau tidak, sutradara muda Ti West (Cabin Fever 2. The Roost) ikut meluncurkan sebuah karya horror yang bisa dibilang sebagai tribute dari masa kejayaan horor Amerika di era 80an, lengkap dengan atribut-atributnya yang khas. Pada era 80an sendiri, terdapat masa-masa dimana isu tentang kelompok pemuja setan menjadi sebuah isu yang booming di masyarakat Amerika. Isu inilah yang dipilih untuk diangkat sebagai dasar cerita dari The House of the Devil (THotD). 

Samantha (Jocelyn Donahue) baru saja menemukan tempat tinggal idamannya. Sebuah rumah berukuran cukup besar dengan fasilitas memadai dan harga yang terjangkau untuk kantong mahasiswa seumurannya. Si pemilik rumah sendiri bahkan memberikan kemudahan pembayaran baginya asalkan ia bisa memberikan uang sewa untuk bulan ini pada hari senin depan. Masalahnya, di tabungan Samantha hanya tersisa sekitar $80, dan hari senin tinggal sebentar lagi. Terdesak oleh masalah keuangan tersebut, Samantha lalu memutuskan untuk mencoba lowongan sebagai babysitter, berkat selebaran yang didapatkannya dari sekitar kampus. Kesan pertama dengan si pencari babysitter sudah terasa aneh dan tidak mengenakkan. Ia meminta Samantha pada hari itu juga bertemu dengannya di depan salah satu gedung kampus, namun pria bersuara halus tersebut tidak kunjung datang. Keesokan harinya, pria tadi kembali mengirim pesan untuk Samantha, ia meminta maaf dan memintanya untuk datang ke rumahnya malam itu juga.

Malam itu bertepatan dengan gerhana bulan total. Samantha, ditemani oleh teman dekatnya, Megan (Greta Gerwig), datang ke rumah si penelpon tadi. Rumah berukuran besar yang terletak di tengah - tengah hutan tersebut terasa misterius dan mengerikan. Pemilik rumah tersebut ternyata adalah pasangan suami istri separuh baya, Mr. dan Mrs. Ulman (Tom Noonan dan Mary Woronov), dan mereka tidak punya bayi sama sekali. Yang harus dijaga oleh Samantha adalah ibu mereka. Awalnya Samantha ragu - ragu, namun iming-iming upah 4x lipat terasa begitu berat untuk diabaikan, ia pun menerima tawaran itu. Sebuah keputusan besar yang nantinya pasti akan selalu disesali olehnya.

The House of the Devil; dari judulnya saja kita pasti sudah bisa menebak apa yang akan dihadapi oleh Samantha di film ini, sebuah rumah yang berisi para pemuja setan. Awalnya saya mengira film ini akan menjadi seperti film - film horor kelas 2 kebanyakan, to the point, tanpa basa basi, dan dipenuhi dengan bergalon - galon darah. Tidak ada yang baru dari segi ceritanya, dan THotD tampaknya memahami kelemahannya itu Karenanya, Ti West benar - benar memanfaatkan persepsi dan sugesti yang sudah tertanam dalam penontonnya lewat bangunan ceritanya yang luar biasa intens dan detail. Ketika Samantha berada dalam kesendiriannya, bersama dengan "ibu" yang berada di lantai atas, saya mulai mereka - reka apa yang akan terjadi dengan Samantha. Karena itu, setiap suara langkah kaki, derit pintu dan lantai kayu, dan keheningan yang tertangkap, saya pun sudah mulai mengantisipasi dan membuat gambaran tentang apa yang terjadi di rumah itu, walaupun secara visual, tidak ada yang terjadi pada layar kaca. Sayangnya proses build up menuju klimaks yang sudah dibangun dengan perlahan ini tidak diimbangi dengan klimaks yang memuaskan, bahkan cenderung mengecewakan.  Setelah menghabiskan lebih dari separuh durasi untuk membangun klimaksnya, apa yang dipaparkan terasa terlalu biasa. Dan, ketika film ini sudah mencapai endingnya, saya pun sudah tidak tertarik lagi dengan apapun yang terjadi di dalamnya.

Gimmick yang ditawarkan oleh THotD sendiri adalah nuansa di era 80annya. dan Ti West berhasil mereplikasi aura dan atmosfer 80an tersebut ke dalam audio dan visual dalam film ini. Ada perasaan nostalgia ketika menyaksikan opening title-nya yang sederhana dengan iringan musik synthesizer  yang picisan tersebut. Detail - detail kecil seperti walkman yang selalu dibawa Samantha serta gaya rambutnya yang khas itu juga membuat film ini terasa lebih menarik. Gimmick 80an ini tampaknya tidak hanya terpapar dalam filmnya saja, namun juga di item - item pendukung seperti teaser, trailer, serta poster - poster publikasinya. Bahkan, THotD  kabarnya juga tersedia dalam bentuk kaset VHS.

Mereka yang mengharapkan THotD sebagai sebuah horor picisan yang penuh aksi mungkin akan kecewa. Keunggulan yang ditawarkan dalam film ini justru terletak pada proses pembangunan ceritanya yang dikemas secara perlahan dan detail tersebut. Walaupun bagian akhir filmnya akan mengecewakan banyak penonton, namun sebagai film horor, THotD tetaplah sebuah film yang menarik dan unik, terutama bagi mereka yang merindukan masa - masa keemasan dunia horor era 80an.







Friday, February 25, 2011

The Boxer / Bokusā (Shuji Terayama, 1977)

Saya pertama kali mengenal Shuji Terayama lewat karya fenomenalnya, Throw Away Your Book, Rally in the Streets. Lewat karyanya itu, saya dibuat kagum dengan permainan visual dan narasi yang luar biasa indah sekaligus unik. Gayanya yang cenderung playful dan eksperimental inilah yang kemudian membuat saya tertarik untuk mengenal lebih jaul tentang salah satu legenda Jepang ini. Ditengah kegemarannya “bermain-main” dalam dunia teater, literatur, fotografi dan film, tidak banyak yang mengetahui Shuji Terayama adalah seorang penggemar berat olahraga tinju. Kegemarannya inilah yang kemudian dituangkan olehnya lewat satu-satunya film mainstream yang pernah dibuatnya, The Boxer.

Layaknya sebuah kisah klise tentang perjuangan seseorang from zero to hero, film ini menceritakan tentang seorang mantan petinju, Hayato (Bunta Sugawara) dan hubungannya dengan anak didiknya, Tenma (Kentaro Shimizu) dalam perjalanannya meraih kesuksesan. Hubungan antara Tenma dan Hayato terbilang unik, Tenma yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang bangunan, suatu hari dikejutkan dengan berita bahwa gadis yang dicintainya memutuskan untuk menikahi rekan sekerjanya, yang juga merupakan adik dari Hayato. Ditengah kegalauannya itu, Tenma tanpa sengaja membunuh teman kerjanya itu. Hayato, dipenuhi dengan rasa amarah dan ingin balas dendam, mendatangi sasana tempat Tenma berlatih, dan menantangnya berkelahi. Tenma hanya diam saja, dan bersumpah bahwa kejadian itu hanyalah sebuah kecelakaan.

Beberapa hari kemudian, Tenma menjalani pertarungan penting melawan seorang petinju amatir. Dikarenakan kondisi fisik kakinya yang memiliki kelainan, Tenma kalah telak dan babak belur. Hal tersebut diperparah dengan keputusan pemilik sasana untuk mengeluarkan Tenma. Karena putus asa, Tenma lalu mengambil langkah "gila" dan mendatangi Hayato untuk meminta mantan petinju itu untuk melatihnya. Hayato geram, namun setelah berpikir panjang ia pun memutuskan untuk melatih Tenma.

Dibandingkan dengan film-filmnya yang lain, The Boxer memang jauh dari kesan surreal dan eksperimental. Lewat gaya penceritaan ala Hollywood, Shuji Terayama membawa kita dalam dunia adu jotos yang dingin dan kejam tersebut. Namun jangan membayangkan film ini seperti Raging Bull atau Million Dollar Baby. Saya lebih suka membandingkan The Boxer setipe dengan film hiburan semacam Rocky atau Karate Kid, tentu saja dengan sedikit bumbu racikan visual khas Terayama. Walaupun dalam beberapa adegan, Terayama menyisipkan isu - isu sosial yang berhubungan dengan dunia tinju, namun pada dasarnya jalan cerita dalam film ini cukup linear, bahkan cenderung terlalu sederhana. Saya sebenarnya mengharapkan ada porsi lebih tentang isu kematian adik Hayato, namun ternyata isu tersebut menguap ditengah cerita. Akibatnya, yang tersisa dari cerita utama film ini hanyalah proses perjuangan dan latihan Tenma dan Hayato menuju pertarungan utamanya saja, dengan konflik - konflik disekitarnya yang sebenarnya menarik, namun tidak cukup kuat untuk mengangkat kisah film ini.

Sebenarnya cerita "pecundang berubah menjadi pahlawan" ini akan lebih menarik jika saja The Boxer memiliki karakter - karakter utama yang likeable.Namun, Shuji Terayama nampaknya lebih tertarik untuk menggambarkan karakter yang lebih "nyata" ketimbang menjual mimpi, walaupun pada dasarnya film ini sebenarnya melakukan hal tersebut. Karakter - karakter dalam The Boxer sebagian besar didominasi oleh karakter pecundang yang rasanya sulit untuk diberikan simpati, hal ini jugalah yang membuat saya tidak begitu peduli dengan nasib mereka. Jika dari segi ceritanya tidak ada yang istimewa, maka bisa dibilang film ini terselamatkan berkat gaya visual Shuji Terayama yang indah dan memanjakan mata, dengan sesekali menggunakan visual hitam putih dan filter warna seperti orange dan ungu. Secara khusus, Terayama bahkan memberikan ruang untuk menampilkan ciri khas surreal-nya lewat kehadiran sebuah bar lengkap dengan para pelanggannya yang berkostum "tidak biasa". Adegan - adegan dalam bar itu tak lupa divisualisasikan dengan filter "pelangi" yang juga sering muncul di berbagai filmnya. 

The Boxer terkesan kehilangan arah dan terkesan terburu-buru, terutama ketika menjelang klimaksnya. Hal ini sangatlah disayangkan karena film ini sebenarnya memiliki potensi yang cukup kuat untuk menjadi film yang menarik. Pada akhirnya, The Boxer mungkin bukanlah karya terbaik milik Shuji Terayama. Namun, bagi mereka yang ingin mencicipi terlebih dahulu dan penasaran dengan salah satu legenda dunia seni di Jepang ini, The Boxer mungkin bisa dijadikan salah satu pilihan, sebelum mengarungi lebih dalam dunia Shuji Terayama yang jauh lebih menarik dan istimewa. 

Wednesday, February 9, 2011

Los Bastardos (Amat Escalante, 2008)

Kehidupan para imigran ditengah perjuangannya untuk bertahan hidup di "tanah impian" Amerika Serikat memang selalu menarik untuk diangkat dalam berbagai media. Dalam filmnya yang kedua ini, Amat Escalante mencoba untuk memaparkan gambaran kehidupan dua orang imigran asal Mexico yang dalam kesehariannya menawarkan diri di samping trotoar untuk menunggu pekerjaan yang datang di hari itu. Kali ini, Jesus (Jesus Moires Rodriguez), pria berusia sekitar 30an yang pendiam dan Fausto,  (Ruben Sosa) seorang remaja tanggung, mendapatkan pekerjaan yang berbeda. Hari ini di tas punggung milik Jesus, tersimpan sebuah shotgun hitam untuk pekerjaannya malam nanti.

Dibuka dengan shot statis berdurasi panjang yang secara perlahan menampilkan kedua tokoh utama tersebut, kita kemudian disuguhkan dengan aktivitas para imigran yang menjajakan dirinya untuk mendapatkan perkerjaan di hari itu. Setelah beberapa lama menunggu, Jesus dan Fausto akhirnya mendapatkan panggilan. Mereka dan beberapa imigran lain diminta untuk bekerja di sebuah lahan konstruksi. Setelah bernegosiasi sebentar soal upah per jam mereka, si pemberi kerja pun akhirnya setuju untuk membayar $10 untuk tiap jamnya.. Selesai bekerja, Jesus dan Fausto memutuskan untuk bersantai sebentar di taman kota. Di sana, mereka bertemu dengan sekelompok pemuda mabuk yang mengolok - olok mereka. Fausto sempat emosi dan ingin menghajar mereka, namun Jesus menahannya dan mengingatkan, mereka punya pekerjaan besar nanti malam.

Sampai di situ, fokus film mendadak berubah ke dalam kehidupan sebuah single mother, Karen (Nina Zavarin) dan anak remajanya yang cuek. Sang ibu yang tidak tahu harus berbuat apa menghadapi kelakuan anak laki-lakinya tersebut, bergantung pada kebiasaannya memakai obat-obatan sambil menonton TV hingga tertidur pulas. Ia tak menyadari, dari jendela belakang rumahnya, dua orang pemuda perlahan - lahan masuk untuk menyelesaikan pekerjaannya di malam itu.

Sejak awal kariernya di dunia film, Amat Escalante memang sudah berniat untuk berfokus pada isu imigrasi dalam film - filmnya. Lewat gaya ultra minimalis yang sudah diusungnya dari film pertama, Sangre, sang sutradara tampaknya ingin mencoba untuk membuat suatu rekaan realitas dengan Jesus dan Fausto yang mewakili gambaran perjuangan para imigran untuk dapat hidup sejahtera di "tanah impian" tersebut. Persepsi rakyat Amerika terhadap para imigran yang tingkat ekonominya di bawah rata-rata hampir semuanya sama, mereka memandang para imigran seperti calon pelaku kriminal. Tetapi dalam Los Bastardos, sang sutradara mencoba menggambarkan mereka sebagai manusia yang hanya ingin bertahan hidup, dan bertindak kriminal karena terdesak dengan keadaan. Ketika Jesus dan Fausto menginvasi rumah Karen, hal pertama yang dilakukannya bukan mengambil barang berharga, melainkan mencoba untuk merasakan nikmatnya kehidupan kelas atas dengan memakan makanan mereka, duduk di sofa, berenang di kolam renang mewah, dan juga memainkan videogame sambil menyantap snack milik mereka.

Persepsi menjadi salah satu modal utama sang sutradara untuk menimbulkan kengerian dalam Los Bastardos. Tanpa musik latar, pengambilan gambar yang minim pergerakan dan tempo yang sangat lambat, Amat Escalante seakan - akan ingin membangun momentum secara perlahan, membiarkan para penontonnya menebak-nebak dan di saat mereka lengah, menghantamnya dengan sebuah adegan brutal yang  mengejutkan. Berbeda dengan film - film lain yang biasanya menghias cerita dengan teknik editing, suara dan visual, film ini menghantarkan cerita secara "telanjang" dan dingin. Kebanyakan dialog dilakukan secara spontan, dan hampir tidak ada musik yang mengiringi sepanjang film, yang ada hanya shot - shot minimalis yang dibingkai secara indah. Teknik seperti ini mengingatkan saya dengan film - film karya Michael Haneke dan Bruno Dumont. Gaya dokumenter dengan tempo yang sangat lambat ini mungkin sedikit menyiksa bagi yang belum terbiasa. Namun saya justru merasa gaya seperti ini dirangkai secara efektif untuk membangun ketegangan sebelum klimaksnya yang sangat mengejutkan. Gaya seperti ini pulalah yang membuat Los Bastardos terasa sangat depresif dan dingin.

Ketimbang memberikan pencerahan, Amat Escalante tampaknya lebih tertarik untuk memaparkan realita kehidupan secara gamblang untuk membuka mata kita tentang kondisi sosial di Amerika Serikat yang memprihatinkan.  Aura depresif dan pesimistis yang menyelimut film ini memang terasa begitu pekat sampai di akhir cerita. setelah credit title berputar, Los Bastardos pun seakan - akan seperti memancing para penontonnya untuk merenungi dan bertanya, "siapakah yang sebenarnya bersalah dan harus bertanggung jawab dalam masalah ini ? " 

Monday, February 7, 2011

Baadassssss! (Mario Van Peebles, 2003)

Melvin Van Peebles tak diragukan lagi adalah legenda hidup bagi dunia perfilman masyarakat Afrika-Amerika. Filmnya yang berjudul Sweet Sweetback’s Baadassssss Song! merupakan salah satu film legendaris yang mematahkan karakter stereotype tokoh kulit hitam pada perfilman Hollywood pada waktu itu. Dalam filmnya itu, Melvin juga berperan sebagai koboi yang berjuang melawan arogansi kulit putih. Film ini disebut - sebut sebagai landasan film blaxploitation dan juga batu tolak untuk para sineas dan aktor kulit hitam untuk masuk ke dalam dunia mainstream

Berbekal fakta itu, Mario Van Peebles, anaknya, membuat sebuah dokudrama tentang bagaimana beratnya perjuangan sang ayah dalam proses produksi film tersebut. Mario sendiri berperan sebagai Melvin, seorang sutradara yang baru saja meraih sukses dengan film komedi, Watermelon Man, dan ditawarkan untuk terus membuat film - film sejenis. Namun keresahan Melvin akan pandangan stereotype Hollywood terhadap tokoh kulit hitam membuat Melvin memutuskan keluar dan membuat film sendiri secara independen. Dibantu dengan teman hippienya, Bill Harris (Rain Wilson) dan  beberapa kru amatir dari perusahaan video porno, Melvin bertekad untuk membuat sejarah dan mengobarkan bendera perang terhadap Hollywood.

Baadassssss! merupakan proyek yang didedikasikan penuh kepada ayahnya. Dalam film ini, bisa kita lihat bagaimana proses perenungan sang ayah sebelum membuat karya legendarisnya itu sampai pada proses produksi dimana Melvin harus mengorbankan seluruh harta bendanya agar film itu bisa dicapai. Semuanya diperankan dengan emosional oleh Mario sendiri. Walupun begitu, salut untuk Mario yang bisa membuat film ini terasa obyektif dan tidak terlalu mengagung-agungkan sosok Melvin. Melvin van Peebles, dalam film ini, digambarkan sebagai seseorang dengan ego besar, yang mau mengorbankan apa saja agar filmnya bisa tercapai. Ia adalah sosok diktator, yang tidak segan - segan memecat dan bahkan menghantam siapa saja yang menghambat jalannya produksi. Ia bahkan “tega” untuk memasukkan anaknya sendiri, (Mario) ke dalam satu adegan dimana si anak harus beradegan sex.

Baadassssss! adalah film yang menarik. Bukan saja karena faktor - faktor eksternal semata, namun juga bagaimana Mario Van Peebles dapat menggambarkan secara detil karakter Melvin ke dalam film ini. Melvin digambarkan sebagai sosok yang menemukan impian hidupnya dan tidak ragu - ragu untuk mewujudkannya. Ia digambarkan sebagai sosok egois yang mengharapkan semua orang memiliki passion yang sama seperti dia, dan yang paling penting lagi, ia merasa sebagai pahlawan yang sedang bekerja untuk kaumnya sendiri, yaitu masyarakat etnis Afrika-Amerika. Dengan proses produksi yang memiliki begitu banyak masalah dari berbagai segi, Mario menggambarkan bagaimana frustasinya sang ayah dan keraguannya untuk meneruskan impiannya itu.

Sweet Sweetback’s Baadasssss Song mungkin bukan film yang baik secara estetika, namun film ini tetap harus mendapat tempat khusus di dalam sejarah perfilman dunia. Dalam Baadassssss!, Mario Van Peebles menceritakan kembali secara detil proses pembuatan sejarah itu,dan membuka mata penontonnya untuk semakin menghargai film tersebut. Karena itu, rasanya film ini sangat cocok ditonton oleh mereka yang berniat untuk terjun dalam dunia perfilman independen.







Monday, January 31, 2011

Confessions (Tetsuya Nakashima, 2010)

Aaaaahhh indahnya masa sekolah. Saya masih ingat bagaimana pertama kalinya bertengkar di halaman sekolah, menangis ketika agenda saya dirobek oleh seorang guru muda karena lupa mengerjakan PR, atau terangsang ketika dipeluk erat oleh guru cantik yang saya idolakan. Berbicara soal guru, sepertinya murid dan guru sudah menjadi dua elemen yang selalu bertentangan. Setidaknya di jaman saya sekolah dulu. Guru yang terlalu baik, pasti akan dikerjai oleh murid-muridnya, sampai guru tersebut tidak tahan dan terpaksa bertindak galak. Guru yang terlalu kejam pun pasti tak lepas dari cemoohan dan kutukan murid-muridnya. Tak jarang kami melakukan tindakan kecil - kecilan untuk mencemooh guru - guru tersebut, baik secara frontal maupun diam - diam. Dan ketika sudah besar sekarang, saya mulai menyesal pernah melakukan tindakan yang serupa, hei, tapi saya masih remaja waktu itu, dan membenci orang dewasa yang tidak sepaham adalah salah satu hal yang paling mudah dilakukan sebagai pelampiasan atas rasa frustasi dengan berbagai masalah baru yang sebelumnya tidak pernah saya dapatkan.

Hubungan antara orang dewasa dan anak remaja inilah yang juga menjadi salah satu tema penting dalam film terbaru Tetsuya Nakashima, Confessions atau Kokuhaku. Sutradara yang dua film terakhirnya, Kamikaze Girls dan Memories of Matsuko, menampilkan gaya visual yang colorful bahkan cenderung lebay itu kali ini menyalurkan dua ciri khas tersebut ke dalam tema yang jauh lebih gelap dan suram. Jika Matsuko mencoba untuk menetralisir kisah kehidupan yang depresif dengan balutan warna warni lolipop yang ceria, maka sebaliknya, Kokuhaku memilih untuk mendramatisir keadaan lewat gaya slow motion dan warna - warna gelap yang sangat depresif dan muram.

Kokuhaku dibuka dengan suasana sekolah yang gaduh dan ceria, beberapa anak terlihat sedang saling bertukar pesan lewat telepon genggamnya, salah satu anak laki-laki mengisengi temannya dengan melempar bola baseball ke kepalanya. Mereka semua terlihat sedang menikmati sekotak susu. Rupanya waktu itu ada sejumlah sampel susu yang diberikan dalam rangka pengenalan program kesehatan untuk para remaja. Di depan kelas, Yuko Moriguchi (Takako Matsu) sedang berbicara, hampir semua anak menghiraukannya, tapi ia tidak peduli. Mukanya dingin, dan nada bicaranya kaku, ditengah riuh gaduh murid-muridnya, ia menjelaskan kalau hari itu adalah hari terakhirnya mengajar karena ia tidak tahan dengan kelakuan mereka. Seperti yang bisa ditebak, murid-muridnya merespon dengan teriakan bahagia, mencoba untuk mengolok guru mereka yang sudah menderita itu. Lagi - lagi, ibu Moriguchi tidak peduli, ia meneruskan pidato terakhirnya tersebut, dengan berkata tema pelajaran yang akan ia berikan di hari terakhirnya ini adalah tentang kehidupan.

Ia lalu mulai bercerita tentang musibah yang baru saja dihadapinya. Anaknya yang masih berumur 3 tahun ditemukan meninggal di kolam sekolah. Polisi menetapkan kasus tersebut sebagai kecelakaan, tapi ia tahu, ada 2 muridnya yang bertanggung jawab atas kematian anaknya tersebut. Pertama adalah A, murid pintar yang baru - baru ini mendapatkan penghargaan atas penemuannya. A marah karena berita tentang keberhasilannya itu kalah tenar dengan berita pembunuhan massal yang dilakukan seorang murid sekolah dengan inisial Lunacy. Yang kedua, B, seorang murid pendiam yang tidak memiliki banyak teman di sekolahnya, ia pernah mengikuti berbagai ekstrakulikuler olahraga, namun karena tidak berbakat, ia malah dicemooh oleh teman-temannya dan terpaksa keluar dari ekskul tersebut. Ibu Moriguchi tidak menyebutkan nama keduanya, tapi seisi kelas sudah tahu siapa mereka. Di akhir monolognya, ia mengatakan, tidak akan mengadukan kedua murid tersebut ke polisi karena hukum di Jepang yang tidak akan memperlakukan anak di bawah umur sebagai kriminal. Namun, ia berjanji akan membalas dendam, dan sebagai pembukaan, ia memberitahukan bahwa di kotak susu kedua anak tersebut, sudah dikontaminasikan dengan darah kekasihnya yang terjangkit HIV. Seketika, seisi kelaspun berteriak panik.

Begitulah kira - kira adegan awal yang menjadi pembuka drama suram ini. Ketimbang membangun suasana perlahan - lahan, dalam 30 menit awal, Tetsuya Nakashima memilih untuk menggugah emosi penonton lewat monolog sang guru yang dingin. Dalam waktu  setengah jam itu, Nakashima seperti menunjukkan bahwa filmnya kali ini pun tidak berbeda dengan kedua film sebelumnya, setidaknya dari segi visualnya yang tetap cantik. Lewat montasenya yang dirajut seperti sebuah video klip, monolog dingin yang dilontarkan ibu Moriguchi  menjadi tidak membosankan  Format yang terasa seperti sedang mendengarkan curhatan yang sangat pribadi ini memang tak hanya ada dalam 30 menit saja, tapi juga di sepanjang film, demikian pula dengan gaya slow motion dan warna - warna suramnya. Hal ini yang membuat saya agak kelelahan, terutama  ketika sampai pada pertengahan film ini. Gaya yang diulang - ulang ini terasa agak monoton dan membosankan, walaupun harus diakui, visual tersebut memang merupakan salah satu alasan mengapa film ini istimewa.

Kokuhaku sendiri mencoba untuk melihat peristiwa tragis yang dialami ibu Moriguchi lewat berbagai sudut pandang. Dengan menggunakan curhat para karakternya, penonton diajak untuk memahami perubahan karakter para tokohnya yang terguncang akibat kejadian tersebut. Walaupun Ibu Moriguchi hanya mendominasi film di bagian awal dan akhir saja, namun tak pelak lagi, Kokuhaku berpusat pada aksi dan rencana balas dendamnya. Disitulah film ini terasa bermain - main dengan emosi para penontonnya yang sudah dibekali norma sosial yang ditanamkan sejak kecil. Saya merasa digiring untuk mendukung aksi balas dendam sang guru, bahkan berharap ia menghabisi nyawanya namun di sisi lain "musuh" yang dihadapi adalah sekumpulan anak remaja yang belum dewasa pola pikirnya. Ketika Kokuhaku memberi porsi lebih kepada kedua murid tersebut, adegan yang ditampilkan pun juga tidak indah, malah cenderung memperkuat alasan untuk menghabisi mereka. Ya, film ini memberikan alasan bahwa sifat kedua murid tersebut terjadi tak lepas karena perlakuan lingkungan dan orang dewasa kepada mereka, namun di lain pihak, mereka menjadikan alasan tersebut untuk melakukan aksi yang keji dan brutal.

Saya sendiri sebenarnya tidak melihat Kokuhaku sebagai drama psikologis yang berat, mengingat cara Nakashima memperlakukan karakter dan film ini sendiri cenderung masih sebagai sebuah film hiburan dan bahkan menyerempet batas film eksploitasi. Penggambaran karakternya sendiri mungkin belum "dalam" jika dipandang dari sisi psikologisnya. Alasan dan tingkah laku para tokoh, terutama murid murid kelas tersebut, juga terasa terlalu ekstrim dan berlebihan. Namun lewat topik dan ceritanya, film ini berhasil melontarkan sebuah topik atas moralitas yang saya rasa akan direnungkan oleh banyak penontonnya,. Berdiri di antara batas eksploitasi dan mainstream, Kokuhaku pada akhirnya berhasil menjadi sebuah suguhan muram nan indah yang berkesan dan tetap menghibur.  







Wednesday, January 26, 2011

The Sect (Michele Soavi, 1991)

Januari 1970, sekelompok hippies sedang bersantai di tengah padang gurun California yang panas. Tampaknya mereka tinggal di dalam sebuah trailer kecil disana. Alunan musik mengiringi aktivitas mereka di hari yang terik tersebut  Sekelompok pria tengah melontarkan batu dari katapel miliknya, mencoba menghancurkan sebuah jam tua yang kondisinya sudah dimakan jaman. Seorang wanita muda, dengan antusias membuka bajunya, menunjukkan payudaranya yang dihiasi motif floral berwarna-warni, pria muda lainnya merespon dengan mengangkat kuas, hendak menyelesaikan karya seninya di tubuh wanita cantik tersebut. Wanita muda lainnya, dengan sigap mempersiapkan hidangan bagi mereka semua. Rambutnya yang pirang berdansa mengikuti alunan musik pop tersebut. Tiba-tiba ia berteriak,”Hei, jangan pergi jauh-jauh!” Seorang anak kecil mengiyakan dengan tergesa – gesa. Ia berlari agak jauh menuju semak - semak, lalu buang air kecil disana.Ketika sedang asyik melakukan aktivitasnya, seekor ular besar berwarna coklat menggeliat di dekatnya, seketika ia menangis sekeras mungkin. Pria muda yang sedang asyik melukis tadi bergegas berlari untuk menolongnya. Sesampainya disana, ular tadi sudah tidak tampak lagi. Namun dari kejauhan, sosok berjanggut panjang dengan rambut tak terurus dengan lunglai menghampiri mereka. Sekujur tubuhnya kotor dan berantakan, jubahnya, yang seakan - akan berasal dari jaman pertengahan, dipenuhi dengan debu dan kotoran hingga tak terlihat lagi warna aslinya. Dengan segera, pria tadi mengajak sosok misterius tersebut untuk beristirahat. Sekelompok hippies tadi menyambut sosok misterius tadi dengan hangat, tak ada satupun dari mereka yang menyadari bahwa di malam harinya, sosok misterius itu adalah algojo yang mencabut nyawa mereka semua satu persatu untuk dijadikan persembahan bagi sang iblis.

Jerman, 1991. Miriam Kriesl (Kelly Curtis) hampir saja menabrak seorang pria tua ketika sedang menyetir. Sempat panik karena melihat pria tersebut terkapar tanpa ada gerakan sama sekali, wanita muda yang juga seorang guru TK itu semakin dibuat bingung karena pria tua tadi terkesan tidak peduli dengan kejadian tersebut. Pria tersebut memegang sebuah paket yang hampir tidak pernah lepas dari pelukannya. Miriam menawarinya untuk beristirahat  di rumahnya, tanpa menghiraukan sikap aneh yang terus diperlihatkan pria tadi. Ketika malam tiba, saat Miriam sedang terlelap, pria misterius tadi masuk ke dalam kamarnya, dan melakukan ritual aneh dengan memasukkan seekor serangga ke dalam hidung Miriam. Miriam tidak menyadari hal tersebut, namun tak lama setelah serangga itu masuk ke dalam dirinya, ia mendapatkan mimpi buruk. Dalam mimpinya, ia akan melahirkan seorang anak, dan setelah itu, ia akan dimangsa oleh seekor bangau. Mimpi buruk tadi merupakan pertanda dari serentetan peristiwa aneh dan mengerikan yang akan terus mengejarnya mulai dari detik itu.

Begitulah kira-kira sinopsis tentang The Sect / La setta / The Devil's Daughter, film ketiga arahan Michele Soavi (The Church, Stage Fright), sutradara yang di awal kariernya sering bekerjasama dengan salah satu sutradara spesialis film horor dan giallo, Dario Argento (Suspiria, Trauma, Deep Red). Influence salah satu legenda hidup industri horor Itali ini  terasa sangat kental disini, terutama karena ia juga terlibat sebagai salah satu produser dan penulis naskahnya.  Sama seperti film- film Argento, The Sect diselimuti dengan kualitas visual yang sangat menarik, namun juga diisi dengan gaya bercerita yang tidak koheren. Berbicara soal cerita, saya sengaja memberikan sinopsis secara detail tentang bagian – bagian tersebut, karena cerita sehabis sinopsis diatas, dapat dilukiskan sebagai sebuah benang hitam yang kusutnya sedemikian akut, hingga sangat sulit untuk diluruskan kembali. Adegan demi adegan dipaksakan menyatu agar membentuk akhir cerita yang sebenarnya justru semakin membingungkan.  Karena itu, rasanya akan lebih tepat untuk menyebut film ini sebagai serangkaian mimpi buruk yang menyeramkan. Sebenarnya, ide cerita dari Argento sendiri tidaklah buruk. Cerita tentang sekelompok anggota sekte yang memburu seorang wanita muda ini sebenarnya dapat dikemas menjadi lebih baik dan menarik, hanya saja, ketika mereka memaksa untuk memasukkan unsur- unsur surreal disini, hasilnya justru malah merusak film itu sendiri. Entah apa yang ada di dalam pikirannya ketika mencoba memasukkan unsur Alice in the Wonderland lewat kelinci putih yang menjadi obsesi dari Miriam, dan membuat kelinci tersebut mahir mengganti remote TV.

Berbicara soal mimpi, tampaknya Soavi lebih senang untuk bermain di wilayah visual film ini. Cerita yang secara logika terlihat berantakan, dikemas secara artistik lewat permainan  warna dan angle sehingga memberikan kesan bahwa ia sengaja mengkonsepkan The Sect seperti sebuah khayalan indah yang juga mencekam. Saya sendiri lebih suka untuk melihat  film ini dari sudut pandang seperti itu, ketimbang mesti bersusah payah menguraikan ceritanya yang membingungkan. Bisa dibilang, visualnya-lah yang menyelamatkan film ini dari kegagalan total.

Jika dibandingkan dengan film – film yang lain, The Sect  mungkin masuk dalam daftar film terburuk yang pernah dibuatnya. Beberapa fans mungkin akan menunjuk Argento sebagai kambing hitam kegagalan film ini, mengingat setelah produksi ini, Michele Soavi mendapat kesempatan untuk bekerja sendiri,  dan ia menghasilkan Dellamorte Dellamore, film zombie dengan kualitas yang jauh lebih baik ketimbang film –filmnya bersama Argento terdahulu. Terlepas dari semua itu, The Sect tetap bisa menjadi sebuah  film yang menarik, terutama bagi anda yang gemar dimanjakan dengan teknik visual yang indah dan tidak biasa, tanpa menghiraukan sisi logika dari ceritanya.

Wednesday, January 19, 2011

Deadly Prey (David A. Prior, 1987)



Jika anda sempat untuk mampir ke halaman film ini di IMDb, maka anda pasti akan kaget melihat begitu banyaknya komentar dan tret diskusi di halaman tersebut. Padahal, Deadly Prey sendiri muncul di tahun 1987 dan hanya beredar dalam bentuk video VHS saja, yang keberadaannya sekarang sudah langka. Apa yang menyebabkan film ini begitu istimewa ? 

Alur cerita film ini sebenarnya biasa saja, pada dasarnya Deadly Prey mengambil tema yang mirip dengan film klasik The Most Dangerous Game, dan kemudian mencampurkannya dengan kisah heroik ala Rambo. Film ini menceritakan tentang sebuah pasukan elit yang dipimpin oleh seorang veteran perang. Kegiatan pasukan ini sehari – harinya sungguh di luar akal sehat, mereka pergi ke jalan raya dan kemudian menculik pria secara acak untuk dibawa ke markas mereka. Pria tersebut kemudian disuruhnya berlari ke dalam hutan dan kemudian diburu oleh para pasukan tersebut. Acara perburuan tersebut merupakan program unggulan untuk melatih para pasukan tersebut agar dapat menjadi pasukan bersenjata yang tidak terkalahkan ,walaupun sekali lagi, jika dipikirkan dengan akal sehat, proses latihan ini tampaknya tidak efektif dan terkesan bodoh. Berbicara tentang bodoh, film ini memiliki banyak sekali elemen – elemen kebodohan yang akan membuat anda geleng – geleng kepala.

Kembali lagi ke pertanyaan awal, jadi apa yang membuat film ini istimewa ? jawabnya adalah Mike Danton (Ted Prior), tokoh utama dalam film ini. Bekas pahlawan perang ini merupakan salah satu korban yang diculik dan dijadikan buruan sepanjang film ini. Namun, berbeda dari mangsa lainnya yang tidak berdaya menghadapi rentetan senjata, Mike Danton, sebaliknya, justru dapat mengalahkan satu batalion dengan hanya menggunakan tangan kosong saja. Mike Danton, yang merupakan perpaduan dari Mcgayver dan Rambo, sering melakukan aksi – aksi aneh bin ajaib yang sebenarnya, sekali lagi, di luar akal sehat. Dalam satu adegan, Mike Danton dengan hebatnya membunuh seorang pasukan, hanya dengan menggunakan 1 buah ranting kecil (!) saja. Selain itu, di salah satu adegan terbaik dalam film ini, Pria macho bertubuh kekar dengan rambut mullet keemasan ini menerjang seorang musuh yang terus menembaknya , namun secara ajaib tidak ada satu peluru pun yang kena, kemudian memotong tangan musuhnya tersebut dengan menggunakan golok, lalu menggunakan tangan tersebut untuk memukul si musuh hingga tewas, tidak hanya sampai di situ, Danton kemudian menguliti kepala musuhnya tersebut. Entah apa tujuannya, yang pasti adegan tersebut sangat melegenda sehingga videonya di youtube mencapai puluhan ribu hit. Salah satu adegan aneh lainnya adalah ketika Danton, yang kelaparan, mencoba untuk menggali tanah untuk mencari seekor cacing yang kemudian disantapnya dengan lahap, sebuah adegan yang amat konyol mengingat Danton baru beberapa jam saja berada di hutan tersebut.

Sampai saat ini, mungkin banyak yang tidak mengerti mengapa seseorang dapat membuat suatu karya yang luar biasa seperti ini. Entah apa yang dipikirkan oleh sang sutradara beserta kru – kru-nya pada waktu itu, yang pasti, film ini merupakan salah satu film aksi yang terkonyol yang pernah ada, walaupun ironisnya, sang sutradara tampaknya ingin membuat Deadly Prey sebagai suatu karya seni yang penuh dengan aksi dan adegan – adegan heroik.

Tuesday, January 18, 2011

The Walking Dead Season 1 (2010)

Siapa yang menyangka zombie akan masuk ke dalam televisi dalam bentuk serial seperti ini ? Setelah berpuluh-puluh tahun kita disuguhkan dengan film bertemakan zombie dengan berbagai macam bentuk --berjalan pelan, berlari, bodoh, pintar, kocak, bisa menembak, dan lainnya-- kali ini, Frank Darabont menawarkan sebuah suguhan serial yang cukup baru untuk ranah layar kaca kita. Sutradara kawakan yang terkenal dengan adaptasinya akan karya Stephen King ini memutuskan untuk memproduksi dan juga menyutradarai pilot dari serial yang juga merupakan sebuah adaptasi dari novel grafis tersebut.

Di tengah serbuan serial bertemakan drama, komedi, vampir dan serial romantis bersetting dunia kedokteran yang mulai menjamur di Amerika Serikat, zombie merupakan suatu hal yang cukup mengejutkan mengingat belum tentu serial seperti ini akan menghasilkan rating yang cukup baik. Namun, AMC, stasiun tv kabel yang juga menampilkan Breaking Bad dan Mad Men, berhasil membuktikan bahwa perjudian tersebut tidak sia-sia. The Walking Dead berhasil menembus angka diatas 500.000 penonton dan juga dinominasikan dalam berbagai penghargaan, salah satunya adalah Golden Globe dalam kategori Best Television Series Drama.

Sama seperti film - film zombie lainnya, The Walking Dead menceritakan tentang perjuangan hidup para manusia yang tersisa di tengah hamparan makhluk-makhluk yang lapar akan daging mereka. Kali ini, tokoh utamanya adalah Rick Grimes (Andrew Lincoln), seorang polisi yang tertembak dan terbaring koma di rumah sakit. Ketika terbangun, ia mendapati kalau kondisi tempat tersebut sudah berantakan dan dipenuhi oleh mayat. Tidak hanya rumah sakit saja, kondisi rumahnya pun sudah berantakan dan tidak ada tanda-tanda akan keberadaan istri dan anaknya. Masih dipenuhi dengan rasa kebingungan, ia lalu bertemu dengan seorang ayah dan anak laki-lakinya yang kemudian membawanya ke tempat persembunyian dan menjelaskan perkembangan dunia saat ia sedang terbaring koma. Keesokan harinya, Rick pun mempersiapkan diri dengan berbagai macam senjata dari kantornya, dan memutuskan untuk mencari istri dan anaknya dengan pergi ke Atlanta, kota yang kabarnya dijadikan tempat perlindungan oleh militer. Dalam perjalanan mencari keluarganya tersebut, Rick mulai bertemu dengan para manusia yang tersisa dan bekerja sama untuk dapat bertahan hidup dari serbuan para walkers--sebutan bagi makhluk tersebut-- yang memburu mereka.

Walaupun dihiasi dengan berbagai macam pemandangan menjijikan di sepanjang serial, namun jangan mengharapkan serial ini akan sarat dengan adegan - adegan brutal dan aksi yang mencengangkan. The Walking Dead, pada dasarnya, dapat dilihat sebagai sebuah kisah drama. Intrik - intrik yang dibangun dari karakternya bukan hanya seputar bagaimana mereka dapat bertahan hidup, tapi juga pergolakan moralitas di tengah kehancuran dunia yang sudah terpampang jelas. Akankah moralitas tetap diutamakan dalam dunia dimana kebutuhan primer merupakan sesuatu yang langka ? Kentalnya nuansa drama ini bukan berarti serial ini akan terasa menye-menye dan klise. Sebaliknya, The Walking Dead menawarkan twist yang tidak biasa di beberapa intriknya, walaupun mungkin kisah cinta segitiga di antara para survivors-nya, sedikit mengingatkan kita pada konflik picisan ala sinetron.

Jika mau dibandingkan, dari keseluruhan 6 episode, juaranya mungkin ada pada episode pilotnya, yang disutradarai oleh Frank Darabont sendiri. Dihiasi dengan berbagai visual yang mencengangkan serta adegan - adegan ikonik, seperti kedatangan Rick ke Atlanta dengan seragam lengkap, tas penuh dengan senjata, dan menunggangi kuda, episode yang berjudul Days Gone Bye ini berhasil menawarkan suguhan menarik bagi para calon penggemar yang pada waktu itu penasaran dengan serial ini. Di episode ini, kita dapat melihat pula kualitas special effect dan make up dengan  tingkat kedetailan yang tinggi, dibandingkan dengan episode lainnya yang mengalami sedikit penurunan kualitas.

6 episode, sebagai pemancing rasa penasaran, dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memberikan gambaran kepada para penonton tentang dunia dalam The Walking Dead ini. Kombinasi adegan - adegan brutal dengan kisah drama para pejuang yang tersisa tampaknya tetap akan menjadi fokus utama dalam serial ini. Kabarnya, musim keduanya akan mulai diproduksi bulan Februari besok, dengan jumlah 13 episode, semoga saja dengan kualitas yang serupa atau malah lebih baik lagi.

Monday, January 17, 2011

Dream Home (Ho-Cheung Pang, 2010)

Hong Kong, sejak awal tahun 90an, sudah terkenal di dunia perfilman sebagai negara pengekspor film eksploitasi ternama. Film – film yang dilabeli dengan nama Category III atau Cat III ini, biasanya memiliki ciri khas seperti tema cerita yang muram dan depresif, adegan – adegan sex dan kekerasan yang eksplisit, serta alur cerita yang heboh bahkan menjurus tidak masuk akal. Salah satu contoh film Cat III yang legendaris adalah The Untold Story. 

Pada awal abad ke 21 ini, film – film jenis Cat III mulai menurun produksinya, walaupun beberapa masih bermunculan, dengan kualitas yang bervariatif, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan masa keemasannya. Di tahun 2010 ini, ditengah arus film banjir darah dari seluruh dunia, Hongkong kembali menunjukkan tajinya dengan menelurkan Dream Home, sebuah film slasher yang kental dengan ciri khas film Cat III-nya.

Dream Home menceritakan tentang perjuangan mendapatkan tempat tinggal impian. Dibuka dengan pemaparan fakta tentang sulit dan mahalnya harga apartemen dan rumah tinggal di Hong Kong, film ini menceritakan tentang perjuangan seorang wanita muda, Lai Sheung (Josie Chan), yang ingin mewujudkan janji masa kecilnya untuk memiliki sebuah tempat tinggal dengan pemandangan ke arah laut. Janjinya ini dipegangnya dengan sangat serius. Ia rela mengambil 2 pekerjaan siang dan malam, menjadi wanita simpanan seorang pria kaya, dan… membunuh… secara brutal. 

Dengan menggunakan alur yang tidak linier, Ho-Cheung Pang merajut cerita dalam film ini ke dalam 2 bagian yang disisipkan secara bergantian. Bagian pertama diisi dengan proses pembunuhan, yang dieksekusi dengan extra brutal, dan bagian kedua yang merupakan cerita tentang kehidupan Lai Sheung, dari flashback kehidupannya semasa kecil, serta perjuangannya mendapatkan flat idaman yang sudah diincarnya. Bagian ini seakan – akan digunakan Pang sebagai pemaparan alasan dan pembenaran atas pembunuhan yang dilakukan Lai Sheung.  Rumah merupakan satu – satunya jalan baginya untuk keluar dari kehidupannya yang menyedihkan. Hal ini mirip dengan pola yang dipakai dalam film – film Cat III terdahulu, kondisi sosial menjadi pembenaran akan pembunuhan sadis yang dilakukan karakter utamanya.

Ho-Cheung Pang, seperti di film – film sebelumnya, kembali menyentil kehidupan sosial masyarakat modern, khususnya di Hong Kong, lewat kehidupan karakter-karakternya yang fucked up. Dialog – dialog satir seperti tentang perselingkuhan, gosip dan aktivitas sex yang tidak lazim, menjadi salah satu highlight  film ini.  Semua aspek itu membuat film slasher ini terasa gendut dan penuh, hal yang membuatnya berbeda dengan film – film berdarah kebanyakan.  Hal ini juga diperkuat dengan sinematografinya yang indah dan berkelas. Penggunaan shallow focus di beberapa  shotnya sangat menarik dan memanjakan mata.

Dream Home dapat menjadi pelampiasan bagi mereka yang rindu dengan masa – masa keemasan film CAT III Hongkong di tahun 90an.  Walaupun akhir – akhir ini, hampir semua negara berlomba – lomba  untuk menampilkan adegan paling “merah” dan berdarah,  film ini bisa tampil beda dengan kemasannya yang lebih berkelas dan menyentuh berbagai sisi emosi penontonnya.  Bagi mereka yang ingin film berdarahnya sedikit lebih berbobot, Dream Home bisa dijadikan salah satu pilihan.

Friday, January 14, 2011

Lynch Mob (Byron Erwin, 2009)

Bagaimana kalau sebuah gelas plastik berisi carian merah 2000 Maniacs dicampurkan dengan 3 sendok makan Goodfellas (atau film mafia sejenis), diaduk dengan rata lalu taburkan Hans Beckert diatas untuk menutupi seluruh permukaannya ? Begitulah kira-kira gambaran sederhana tentang Lynch Mob, sebuah film horror/gore yang berbudget rendah ini.

Dibuka dengan serentetan adegan tentang sejarah kota Lynchburg yang mengerikan, dimana penduduk kota membantai seluruh budak-budak kulit hitam karena menolak patuh pada perintah untuk membebaskan mereka semua. Salah satu dukun ilmu hitam yang hendak dibantai, lalu memberikan kutukan kepada seluruh penduduk kota kecil tersebut. Mereka semua hanya bisa memakan daging manusia, dan tidak akan pernah bisa meninggalkan kota.

Fokus film kemudian berubah menuju Weasel (Michael H. Cole), seorang mafia spesialis bidang interogasi, yang dikenal sebagai seorang psikopat. Saking gilanya, ia kemudian diusir keluar oleh mafia lainnya. Ditengah rasa kesalnya itu, ia lalu menghabiskan waktunya untuk memburu hal yang paling ia cintai, gadis kecil. Malangnya, lewat sebuah adegan yang cukup bodoh, ia kemudian tertangkap dan terancam untuk dikurung dalam jangka waktu yang sangat panjang. Weasel tak kehabisan akal, ia lalu mencoba bernegosiasi dengan para polisi, dan bersedia menjadi saksi untuk menguak jaringan keluarga mafia yang menendangnya terdahulu. Pihak kepolisian setuju, namun dengan syarat, ia akan diasingkan di sebuah kota dimana tidak ada anak kecil sama sekali. Kota tersebut adalah Lynchburg. Di kota itu, hidup Weasel tak hanya terancam oleh kehadiran para kanibal yang siap memangsanya, tapi juga para anggota mafia terdahulu yang menginginkan kepalanya.

Ditengah kerumunan arus film horor picisan yang terus bermunculan setiap tahunnya, selalu ada segelintir permata tersembunyi yang setidaknya bisa mengundang senyum kagum dari para penontonnya. Lynch Mob hampir menjadi permata tersebut. Salah satu feature terbaik yang ditawarkan oleh Lynch Mob adalah alur cerita yang segar dan tidak lazim, pertempuran antara mafia dengan sekelompok penduduk kanibal, dengan bumbu black comedy yang kental. Karakter-karakternya pun menyenangkan, dari Weasel, sebuah fotokopi murahan dari karakter Hans Beckert yang dulu dibintangi oleh Peter Lorre dalam M, sampai Tammy, wanita kanibal gila seks, yang tidak segan tampil polos untuk memancing para calon buruannya. Skenario yang ditulis oleh Stamper bersaudara, Rachel dan Scott, sebenarnya cukup menarik, namun beberapa adegan yang tidak perlu membuat film ini terasa terlalu panjang dan menyeret. Ditambah lagi penampilan yang tidak stabil dari para pemainnya dan special effect yang seadanya.

Poin-poin diatas memang merupakan kesalahan lazim yang biasa terjadi pada film horor indie berbudget rendah, setidaknya, lewat Lynch Mob, talenta - talenta baru ini bisa menunjukkan kemampuan mereka yang potensial. Jika anda bisa menghiraukan segala kekurangannya, Lynch Mob bisa menjadi salah satu pilihan bagi mereka yang mudah terhibur dengan kucuran darah segar dan dialog - dialog cheesy yang tersebar luas dalam 98 menit itu.